Tulisan ini bukan tulisan kuratorial,
tetapi sekadar catatan saya ikut mengantarkan pameran Jatim Art Now 2012 di Galeri Nasional Indonesia. Kata “Now” dalam
tajuk pameran ini berarti kini, yaitu menunjuk pada waktu saat ini, atau menunjuk
pada gejala praktik seni rupa di Jatim, paling tidak yang terjadi lima tahun
terakhir. Bisa jadi, sebagian di antara kita menandai, pameran ini sebagai genre seni rupa kontemporer, karena
secaha harfiah kata kontemporer berarti juga masa kini.
Seperti
yang sering saya katakan dalam berbagai kesempatan diskusi, bahwa seni rupa di Jatim
seperti sebuah anomali dalam konteks seni rupa Indonesia. Pertumbuhan
seni rupa di Jatim menyebar ke berbagai penjuru daerah kabupaten atau kota. Ada
sejumlah kantung-kantung pertumbuhan yang dapat diamati, dan kita sering
mendengar berita dinamikanya. Kantung-kantung itu, yaitu; Banyuwangi dan
sekitarnya, Malang Raya, Tulungangung dan sekitarnya, Madiun dan sekitarnya,
Gresik, Tuban dan sekitarnya, Sidoarjo dan sekitarnya, Mojokerto, serta Madura.
Namun, setiap wilayah itu mengalami dinamika yang berbeda. Hal ini disebabkan
oleh perbedaan infrastruktur dan patron yang ada di setiap wilayah.
Sementara
itu, dalam perkembangan mutakhir tata gaul seni rupa semakin susah hanya dibaca
sebatas dinamika di tingkat lokal, tetapi perkembangannya menuju ke arah
dinamika global. Sebuah wilayah semakin sulit dibaca sebagai sebuah entitas
seni rupa, yang khas dan unik (local
genius). Sebuah wilayah agaknya hanya cukup dibaca sebagai label identitas,
yaitu menyangkut seputar asal-usul atau tempat tinggal si seniman.
Kesadaran
ke dalam perspektif global didasarkan pada isu mutakhir, yaitu ‘kapitalisme
lanjut’. Isu ini akan mengarahkan dunia dalam bentuk ‘integrasi global’ dalam
setiap satuan kebudayaan; ekonomi, politik, ilmu, politik, hingga kesenian
(seni rupa). Dunia menurut gambaran kapitalisme lanjut tidak lagi dibatasi oleh
batas-batas geografis atau batas-batas kultural, tetapi dunia akan disatukan
melalui satu ‘ideologi’, yaitu ‘peradaban pasar’. Adanya satu kepentingan
tunggal, yaitu membangun ‘imperium ekonomi’ yang hanya dikendalikan oleh
‘raksasa-raksasa’ dunia.
Persoalannya:
Bagaimana membangun dinamika kesenirupaan dalam satuan lokal dapat merespons situasi
global semacam itu? Apakah seniman di satuan-satuan lokal sudah memiliki
kesiapan mental, intelektual, modal (kapital), dan jejaringnya dalam merespons
tata gaul kebudayaan macam itu?
Terkait
dengan isu global tersebut, dunia seni rupa, kini, sebenarnya tengah menghadapi
krisis. Krisis tersebut dapat diamati lewat tiga ranah, yaitu: (1) dinamika
praktek dengan segala tantangan teknisnya, (2) dinamika wacana dengan segala
olah pikir, teori, dan segala gesekan-gesekan intelektualnya, (3) dinamika pasar
dengan segala taktik dan strateginya.
Dalam
konteks krisis tersebut, ada gejala umum bahwa praktek seni rupa di
kantung-kantung pertumbuhan seni rupa di Jatim sebagaimana juga terjadi di luar
Jatim, terkena imbas dan bahkan menjadi bagian dari krisis itu. Praktek seni rupa
lebih terasa diwarnai oleh motif-motif pragmatis, cenderung kuat membangun
‘emporium’ (infrastruktur pasar). Tetapi, gejala ini tidak menjadi soal
sebenarnya, karena semua peradaban di jagat ini bermula dibangun dari bentuk
‘emporium’, barulah menjadi ‘imperium’.
Dalam
satu dasawarsa terakhir kita lihat gejala bahwa ‘emporium’ seni rupa semakin
dibangun besar-besaran, walaupun saat ini agak terlihat lesu. Lihatlah berbagai
rumah lelang berdiri silih-berganti, walaupun kemudian ada yang mati suri.
Rata-rata setiap tahun lebih dari 2000 lot diperebutkan di rumah lelang. Belum
galeri-galeri, yang juga menciptakan jaringan pasarnya sendiri. Dan juga pasar
‘kasak-kusuk’ yang diciptakan oleh si seniman sendiri.
‘Emporium’
pada kenyataannya akan bubar tak membekaskan apa-apa, jika ia tidak menjadi
‘imperium’. Ini adalah semacam tatanan formal, yang akan mengatur semua lini
kekuatan. Tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada mekanisme yang jelas. Ada etika
dan hukum yang dipatuhi bersama. Dan ada ideologi yang memayungi
gerakan-gerakan di dalamnya. Sudah saatnya, kita mulai memikirkan proses
perubahan dari ‘emporium’ ke bentuk ‘imperium’ dalam konteks seni rupa, tidak
hanya di Jawa Timur tentunya.
Dunia
pasar (emporium) adalah dunia yang liberal. Pasar memiliki tujuan, mekanisme,
sistem, jaringan, kepentingan, yang hampir-hampir semuanya digerakkan oleh
perhitungan kapital. Pasar dengan seperangkat logikanya sering berseberangan
dengan kualitas praktek, dan wacana yang terjadi. Maka, sesungguhnya dunia pasar,
kalau kita tidak waspada, terlalu banyak jaring-jaring yang siap menjerat kita.
Tapi, hal ini bukan berarti pasar tidak perlu. Yang diperlukan adalah ‘pasar
yang sehat’, bermartabat, dan bermakna bagi dunia seni itu sendiri. Pasar yang memperebutkan nilai, kualitas, dan prestasi.
Akibat
dari itu, seniman kemudian terlihat terlampau pragmatis, akibatnya muncul sikap
agak ‘konyol’, yaitu mengidolakan atau ‘memberhalakan’ hal-hal sbb: (1)
‘idola/berhala’ tribus – menganggap kelompok, angkatan, aliran, atau
identitasnya, sebagai sesuatu yang paling hebat; (2) ‘idola/berhala’ specus
– menganggap sejarah atau biografinya, sebagai satu-satunya sumber kebenaran;
(3) ‘idola/berhala’ fori – menganggap pasar atau kecenderungan umum,
sebagai sesuatu yang harus diikuti; (4) ‘idola/berhala’ teatri –
menganggap kata-kata tokoh; kurator, kolektor, pemilik galeri, kritikus,
sebagai satu-satunya ‘standar’.
Seni rupa bukan hanya persoalan olah
bentuk. Perupa bukan hanya bekerja dalam batas-batas artistik-estetik. Karya seni
perlu dimaknai, ditafsir, dibincangkan, melalui rupa-rupa pendekatan, agar
karya seni itu tidak hanya berhenti sebagai ‘artefak’ yang mati, diam, dan tak
tersentuh medan perdebatan makna. Perupa hendaknya menyadari bahwa dunia seni
rupa sekarang menghendaki lebih dari itu, termasuk kesadarannya dalam tata-gaul
global, antara lain juga termasuk dengan art
market-nya.
Tugas seniman sebenarnya tak melulu
berkarya (olah bentuk), tetapi dia dalam dataran lebih jauh ‘harus’ terbuka
dalam arus penafsiran (hermeneutis) dan sekaligus penaksiran (komodifikasi
seni). Seniman mau tidak mau menceburkan dirinya dalam medan makna (wacana),
dan medan pasar. Hal ini yang saya kira masih sangat jarang dilakukan. Seniman
seolah ‘tidak siap’ memasuki medan makna dan medan pasar sekaligus – yang
sebenarnya penting bagi pembentukan ‘posisioning’-nya
dalam konteks pertumbuhan seni rupa dalam skala luas. Dalam menyikapi berbagai
ragam persoalan tersebut, akhirnya persoalannya dipulangkan kepada seniman
sendiri: Kemana seni rupa hendak dibawa, dibangun, dihadirkan, diwacanakan,
diposisikan dalam tata-gaul peradaban global? Ini PR besar yang harus
dipikirkan bersama.
Pameran Jatim Art Now 2012, saya kira harus dipahami secara luas, dengan
melibatkan konteks di atas.
Bukan hanya dalam konteks Jawa Timur, tetapi dalam
konteks yang lebih luas. Ini logis, karena seni rupa pada masa kini, baik
langsung maupun tidak langsung terimbas oleh isu global. Kenyataan ini amat
dimungkinkan, mengingat teknologi informasi pada kenyataannya telah masuk di
berbagai sudut pelosok wilayah Jatim. Seniman-seniman yang tinggal dan berkarya
di berbagai daerah itu, tak merasa sebagai seniman lokal yang buta
perkembangan, tetapi mereka diam-diam mengikuti perkembangan di luar, walaupun
dengan kepala penuh tanda tanya.
Surabaya, Juni 2012
Djuli
Djatiprambudi
No comments:
Post a Comment