Saturday, July 28, 2012

Seni Rupa Jawa Timur Kini


Tulisan ini bukan tulisan kuratorial, tetapi sekadar catatan saya ikut mengantarkan pameran Jatim Art Now 2012 di Galeri Nasional Indonesia. Kata “Now” dalam tajuk pameran ini berarti kini, yaitu menunjuk pada waktu saat ini, atau menunjuk pada gejala praktik seni rupa di Jatim, paling tidak yang terjadi lima tahun terakhir. Bisa jadi, sebagian di antara kita menandai, pameran ini sebagai genre seni rupa kontemporer, karena secaha harfiah kata kontemporer berarti juga masa kini.

Seperti yang sering saya katakan dalam berbagai kesempatan diskusi, bahwa seni rupa di Jatim seperti sebuah anomali dalam konteks seni rupa Indonesia. Pertumbuhan seni rupa di Jatim menyebar ke berbagai penjuru daerah kabupaten atau kota. Ada sejumlah kantung-kantung pertumbuhan yang dapat diamati, dan kita sering mendengar berita dinamikanya. Kantung-kantung itu, yaitu; Banyuwangi dan sekitarnya, Malang Raya, Tulungangung dan sekitarnya, Madiun dan sekitarnya, Gresik, Tuban dan sekitarnya, Sidoarjo dan sekitarnya, Mojokerto, serta Madura. Namun, setiap wilayah itu mengalami dinamika yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan infrastruktur dan patron yang ada di setiap wilayah.
Sementara itu, dalam perkembangan mutakhir tata gaul seni rupa semakin susah hanya dibaca sebatas dinamika di tingkat lokal, tetapi perkembangannya menuju ke arah dinamika global. Sebuah wilayah semakin sulit dibaca sebagai sebuah entitas seni rupa, yang khas dan unik (local genius). Sebuah wilayah agaknya hanya cukup dibaca sebagai label identitas, yaitu menyangkut seputar asal-usul atau tempat tinggal si seniman. 

Kesadaran ke dalam perspektif global didasarkan pada isu mutakhir, yaitu ‘kapitalisme lanjut’. Isu ini akan mengarahkan dunia dalam bentuk ‘integrasi global’ dalam setiap satuan kebudayaan; ekonomi, politik, ilmu, politik, hingga kesenian (seni rupa). Dunia menurut gambaran kapitalisme lanjut tidak lagi dibatasi oleh batas-batas geografis atau batas-batas kultural, tetapi dunia akan disatukan melalui satu ‘ideologi’, yaitu ‘peradaban pasar’. Adanya satu kepentingan tunggal, yaitu membangun ‘imperium ekonomi’ yang hanya dikendalikan oleh ‘raksasa-raksasa’ dunia.

Persoalannya: Bagaimana membangun dinamika kesenirupaan dalam satuan lokal dapat merespons situasi global semacam itu? Apakah seniman di satuan-satuan lokal sudah memiliki kesiapan mental, intelektual, modal (kapital), dan jejaringnya dalam merespons tata gaul kebudayaan macam itu?
Terkait dengan isu global tersebut, dunia seni rupa, kini, sebenarnya tengah menghadapi krisis. Krisis tersebut dapat diamati lewat tiga ranah, yaitu: (1) dinamika praktek dengan segala tantangan teknisnya, (2) dinamika wacana dengan segala olah pikir, teori, dan segala gesekan-gesekan intelektualnya, (3) dinamika pasar dengan segala taktik dan strateginya.

Dalam konteks krisis tersebut, ada gejala umum bahwa praktek seni rupa di kantung-kantung pertumbuhan seni rupa di Jatim sebagaimana juga terjadi di luar Jatim, terkena imbas dan bahkan menjadi bagian dari krisis itu. Praktek seni rupa lebih terasa diwarnai oleh motif-motif pragmatis, cenderung kuat membangun ‘emporium’ (infrastruktur pasar). Tetapi, gejala ini tidak menjadi soal sebenarnya, karena semua peradaban di jagat ini bermula dibangun dari bentuk ‘emporium’, barulah menjadi ‘imperium’. 

Dalam satu dasawarsa terakhir kita lihat gejala bahwa ‘emporium’ seni rupa semakin dibangun besar-besaran, walaupun saat ini agak terlihat lesu. Lihatlah berbagai rumah lelang berdiri silih-berganti, walaupun kemudian ada yang mati suri. Rata-rata setiap tahun lebih dari 2000 lot diperebutkan di rumah lelang. Belum galeri-galeri, yang juga menciptakan jaringan pasarnya sendiri. Dan juga pasar ‘kasak-kusuk’ yang diciptakan oleh si seniman sendiri.

‘Emporium’ pada kenyataannya akan bubar tak membekaskan apa-apa, jika ia tidak menjadi ‘imperium’. Ini adalah semacam tatanan formal, yang akan mengatur semua lini kekuatan. Tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada mekanisme yang jelas. Ada etika dan hukum yang dipatuhi bersama. Dan ada ideologi yang memayungi gerakan-gerakan di dalamnya. Sudah saatnya, kita mulai memikirkan proses perubahan dari ‘emporium’ ke bentuk ‘imperium’ dalam konteks seni rupa, tidak hanya di Jawa Timur tentunya.

Dunia pasar (emporium) adalah dunia yang liberal. Pasar memiliki tujuan, mekanisme, sistem, jaringan, kepentingan, yang hampir-hampir semuanya digerakkan oleh perhitungan kapital. Pasar dengan seperangkat logikanya sering berseberangan dengan kualitas praktek, dan wacana yang terjadi. Maka, sesungguhnya dunia pasar, kalau kita tidak waspada, terlalu banyak jaring-jaring yang siap menjerat kita. Tapi, hal ini bukan berarti pasar tidak perlu. Yang diperlukan adalah ‘pasar yang sehat’, bermartabat, dan bermakna bagi dunia seni itu sendiri. Pasar yang memperebutkan nilai, kualitas, dan prestasi.

Akibat dari itu, seniman kemudian terlihat terlampau pragmatis, akibatnya muncul sikap agak ‘konyol’, yaitu mengidolakan atau ‘memberhalakan’ hal-hal sbb: (1) ‘idola/berhala’ tribus – menganggap kelompok, angkatan, aliran, atau identitasnya, sebagai sesuatu yang paling hebat; (2) ‘idola/berhala’ specus – menganggap sejarah atau biografinya, sebagai satu-satunya sumber kebenaran; (3) ‘idola/berhala’ fori – menganggap pasar atau kecenderungan umum, sebagai sesuatu yang harus diikuti; (4) ‘idola/berhala’ teatri – menganggap kata-kata tokoh; kurator, kolektor, pemilik galeri, kritikus, sebagai satu-satunya ‘standar’.
Seni rupa bukan hanya persoalan olah bentuk. Perupa bukan hanya bekerja dalam batas-batas artistik-estetik. Karya seni perlu dimaknai, ditafsir, dibincangkan, melalui rupa-rupa pendekatan, agar karya seni itu tidak hanya berhenti sebagai ‘artefak’ yang mati, diam, dan tak tersentuh medan perdebatan makna. Perupa hendaknya menyadari bahwa dunia seni rupa sekarang menghendaki lebih dari itu, termasuk kesadarannya dalam tata-gaul global, antara lain juga termasuk dengan art market-nya.

Tugas seniman sebenarnya tak melulu berkarya (olah bentuk), tetapi dia dalam dataran lebih jauh ‘harus’ terbuka dalam arus penafsiran (hermeneutis) dan sekaligus penaksiran (komodifikasi seni). Seniman mau tidak mau menceburkan dirinya dalam medan makna (wacana), dan medan pasar. Hal ini yang saya kira masih sangat jarang dilakukan. Seniman seolah ‘tidak siap’ memasuki medan makna dan medan pasar sekaligus – yang sebenarnya penting bagi pembentukan ‘posisioning’-nya dalam konteks pertumbuhan seni rupa dalam skala luas. Dalam menyikapi berbagai ragam persoalan tersebut, akhirnya persoalannya dipulangkan kepada seniman sendiri: Kemana seni rupa hendak dibawa, dibangun, dihadirkan, diwacanakan, diposisikan dalam tata-gaul peradaban global? Ini PR besar yang harus dipikirkan bersama.
Pameran Jatim Art Now 2012, saya kira harus dipahami secara luas, dengan melibatkan konteks di atas. 

Bukan hanya dalam konteks Jawa Timur, tetapi dalam konteks yang lebih luas. Ini logis, karena seni rupa pada masa kini, baik langsung maupun tidak langsung terimbas oleh isu global. Kenyataan ini amat dimungkinkan, mengingat teknologi informasi pada kenyataannya telah masuk di berbagai sudut pelosok wilayah Jatim. Seniman-seniman yang tinggal dan berkarya di berbagai daerah itu, tak merasa sebagai seniman lokal yang buta perkembangan, tetapi mereka diam-diam mengikuti perkembangan di luar, walaupun dengan kepala penuh tanda tanya.

Surabaya, Juni 2012

Djuli Djatiprambudi

No comments:

Post a Comment