Saturday, July 28, 2012

Menyoal Seni Kontemporer




Mohamad Arifin, 2012



1.
Selepas kebangkrutan yang melanda abad modern yang mengusung narasi besar, kini sejarah seni telah memasuki babakan baru. Hari ini jagat seni sedang asyik-masyuk dalam hiruk-pikuk perayaan seni kontemporer. Kedatangan seni kontemporer dianggap sebagai kekuatan subversif yang menolak segala bentuk diskursus dominan. Homogenisasi kekuasaan pun terpecah menjadi kepingan yang ringan tanpa beban. Partikularitas yang berkeping-keping itupun menebarkan debu-debu pluralitas yang bertebaran di seantero atmosfer kebudayaan masa kini. Sekarang kita menyaksikan kematian narasi besar itu terkubur di dalam timbunan partikel-partikel eksplosi keragaman di seluruh lini kehidupan. Perbedaan telah menandai datangnya suatu zaman baru di mana epos nihilisme menjadi spirit yang menghidupinya.

Seolah tanpa diwarnai interupsi sedikitpun, khalayak luas secara berjamaah mengangukkan kepala tanda setuju bahwa era kontemporer dapat menjamin kebebasan sekaligus dapat mewadahi keragaman bentuk-bentuk kebudayaan. Dengan lahap massa menelan mentah-mentah arti dari spirit perbedaan tersebut. Mereka gerombolan domba itu belumlah memamah banyak laku kontemplasi mati-matian soal dalamnya jurang kehidupan yang absurd. Nyaris tanpa kedalaman dan kepekaan yang tajam, publik seni terjatuh dalam ekstase kelupaan untuk menafsir kembali spirit perbedaan itu dengan sikap yang kritis. Seni kontemporer pun ikut terhanyut dalam kemabukan massal.

2.
Seni kontemporer membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya apa yang dianggap inferior oleh seni modern. Kitsch merupakan contoh yang paling palsu di dalam seni hari ini. Pada era ini seni berhasrat memuja permukaan, di mana ia ditandai dengan penolakan akan kedalaman isi, konsep dan idea pokok, karena itu jenis seni ini lebih menekankan pada eksplorasi bentuk. Lembar-lembar sejarah seni modern belumlah kusut dan tak terbaca, tintanya masih legam mengental, mencolok mata kita, seolah mengajak kita untuk membacanya kembali. Menjejaki kembali sejarah masa lalu merupakan ingatan yang terjaga untuk mengatasi keadaan hari ini.

Seni garda-depan sebagai sebuah gerakan pelopor dalam abad modern pada masanya dulu menolak dengan tegas karya seni yang palsu, kitsch. Melalui budaya mekanik, karya seni dapat dipalsukan dengan cara penggandaan reproduksi. Di kemudian hari datanglah kapitalisme yang mencuri idea-idea orisinal seni modern dan mereproduksikannya menjadi produk-produk seni yang telah dimekanisasi ke dalam budaya konsumer. Oleh karena itu produk seni yang dihasilkan oleh reproduksi mekanik bersifat dangkal dan artifisial. Wujud karya seni telah direifikasikan sebagai objek yang terasing dari dirinya yang otentik, dan dalam batas tertentu ia direduksikan menjadi objek komoditas. Dalam batas teritorial ekonomistik seperti itu, dengan menggunakan logika produksi karya seni memiliki status sebagai nilai tukar.

3.
Tak berhenti pada era paska-perang, komersialisasi seni pun terus berkembang sampai hari ini. Gelembung determinasinya semakin membesar seperti bola salju yang menggelinding dari ketinggian. Di puncak ketinggian itu ia menjelma menjadi diskursus dominan. Kapitalisme seni yang sebagai kekuatan homogen telah mewujudkan diri sebagai “otoritas tunggal yang lain”. Diskursus seni kontemporer kemudian memproduksi serangkaian teknik dan prosedur untuk mengontrol realitas seni secara menyeluruh. Semua infrastruktur yang berada di dalamnya dijadikan alat untuk mencapai tujuan-tujuan pragmatis. Distribusi pengetahuan pun juga telah diatur secara rapi dan laten mengikuti mekanisme hukum-hukum pasar. Agen-agen pengetahuan seperti media massa, praktek kuratorial, kritik seni, lembaga riset dan arsiparis secara terselubung telah dimanfaatkan sebagai alat pembenaran suatu karya dengan menuruti hasrat pasar.

Tidak seperti kapitalisme purba yang terang-terangan merepresi kesadaran manusia melalui pola kerja industrial, kapitalisme lanjut justru menampilkan diri dengan mekanisme represi yang sangat lembut. Tanpa kita sadari, mekanisme semacam ini telah melumpuhkan kerja-kerja seni yang eksistensial. Sampai pada gilirannya, publik seni telah ditipu oleh muslihat kapitalisme dengan serangkaian propaganda pengetahuan yang melegitimasikan “kebenaran karya seni” tertentu. “Kebenaran karya seni” pada akhirnya hanya dapat ditentukan oleh otoritas kekuasaan yang bernama pasar. Karya seni yang tadinya memiliki muatan ideal, kini telah disublimasikan ke dalam nilai-nilai pragmatis. Dalam kenyataannya, pasarlah yang menentukan kebernilaian suatu karya seni. Semua karya seni yang terlepas dan tercerabut keluar dari lingkaran pasar tidak dianggap sebagai karya seni yang bernilai.

Seni kontemporer telah menyatakan keimannya kepada pasar.  Seni kontemporer dengan mudah terjatuh dalam pelukan rezim pasar hanya karena ia sedang menderita amnesia eksistensial. Kelupaan ini disebabkan oleh kemabukan massa yang merayakan epos nihilisme tanpa dibarengi oleh semangat kritik. Perbedaan adalah satu rangkaian tunggal dengan kritik, tanpa itu wajah seni rupa kontemporer akan nampak sebagai kawanan yang seragam.  Seni kontemporer yang awalnya dianggap sebagai pembebas dari konseptualisasi yang serba kaku, pada saat yang sama sedang menanam jebakan. Tanpa kita sadari, seni kontemporer yang mengusung semangat perbedaan itu telah menjelma menjadi sebuah diskursus seni yang pada prinsipnya dibangun di atas asumsi-asumsi pragmatisme. Seni kontemporer tidak mampu melepaskan diri dari jeratan kekuatan dominan yang bernama pasar. Pada satu sisi, seni kontemporer dengan mengusung perbedaan sebagai narasi kecilnya telah mengatasi narasi besar yang sebelumnya menjadi legitimasi seni modern. Tetapi di sisi lain, perbedaan justru menjadi problem yang berbalik. Perbedaan dapat dinyatakan dengan narasi minor seperti anti-subjek, anti-identitas dan anti-representasi. Seluruh masalah yang berkembang dalam seni kontemporer sesungguhnya bergerak dari tiga narasi minor ini.

Globalisasi yang melanda dunia juga membawa seni kontemporer kepada suatu kondisi yang homogen. Di belahan dunia manapun, semua seniman memanifestasikan narasi minor tersebut ke dalam karya mereka. Pada satu kondisi, seni kontemporer berhasil mengeksplorasi perbedaan pada keragaman bentuk yang luar biasa jamaknya. Tetapi pada kenyataannya, keragaman itu berangkat dari satu tema naratif yang sama. Dalam parodi misalnya, strategi ini dilakukan untuk mempolitisasi identitas dalam karya seni masa lalu. Orisinalitas tidak lagi menjadi hal pokok dalam menimbang karya, justru dengan politisasi identitas tersebut ia disebut sebagai karya yang subversif. Pola kerja semacam ini banyak dilakukan semua seniman di manapun tempatnya. Inilah yang menjadi masalah dalam seni kontemporer yang pada kenyataannya menemui jalan buntu dalam mencari kemungkinan masalah yang baru.

Pada era kontemporer, mekanisme pola hubungan kerjanya tidak lagi diatur menggunakan logika produksi—sebagaimana yang dikenal dalam era modern. Mekanisme yang berlaku dalam era kontemporer menggunakan logika simulasi, di mana karya seni berstatus sebagai nilai tanda. Namun demikian, kita tidak melihat perbedaan yang signifikan dengan seni modern manakala seni kontemporer telah menjelma menjadi diskursus dominan dan bergandeng tangan dengan otoritas tunggal yang lain, yakni pasar. Sampai hari ini ekonomisme masih menjadi kekuatan dominan yang menghomogenisasi seni dan mereduksikannya ke dalam industri kultural. Karya seni berstatus sebagai nilai tanda, akan tetapi semiotisasi yang dipahami di sini adalah sesuatu yang ekonomistik. Karya seni yang disimulasikan sedemikian rupa oleh nilai tanda pada akhirnya diarahkan untuk tujuan pragmatis.

Pada era ini, kita tidak melihat kekuatan lain yang mampu menandingi gurita kekuatan dominan. Kita harus menyadari akan kondisi ini. Seni kontemporer yang beranjak menjadi mapan, dengan kata lain ia telah menjadi klasik. Kondisi ini merupakan kondisi yang berbahaya bagi kelangsungan seni di masa yang akan datang. Sebuah kondisi yang menutup rapat suatu kemungkinan “yang baru”. Kita tidak boleh terjebak pada satu kondisi statis. Untuk itu semaikan kembali benih-benih yang baru. Dunia ini tak berhenti di satu momen. Ada banyak lagi peristiwa yang menunggu kita di depan. Jalannya makin mendaki, terjal dan curam: itupun juga menantang kematian-kematian yang baru.

Era kontemporer bukanlah kekinian yang jumud, berhenti di zona aman, melainkan suatu kondisi sementara: semacam kutu sinkroni atau seperti iklan TV yang numpang lewat. Kontemporer bukanlah nama di mana sesuatu harus berada: ia dapat dinyatakan sebagai kondisi transisi; pemberhentian sementara; gerakan menuju ke suatu entah. “Kebenaran karya seni” bukan hanya dapat ditentukan oleh kekuatan dominan karena kebenarannya telah terpecah sampai ke unit terkecil. Begitu pun keberimanan akan pasar harus diimbangi dengan bentuk keimanan yang lain, ia bercecabang dalam rekahan fraktal, mencari jalur pelariannya sendiri, tanpa henti. Kemungkinan-kemungkinan yang lain juga harus terus dicari sampai pada akhirnya orang akan jenuh menamai segala sesuatu “yang baru”.

5.
Jatim Art Now adalah pameran seni visual yang mempresentasikan karya-karya para seniman yang berasal dari segala penjuru daerah di Jawa Timur. Kesamaan asal wilayah inilah yang mendasari pameran ini. Sebagian dari mereka memang dilahirkan di Jawa Timur, sepanjang karir atau untuk waktu tertentu pernah tinggal dan berkesenian di wilayah ini. Sedang sebagian yang lain lahir di Jawa Timur dan eksistensi keseniannya mereka kembangkan di wilayah lain. Identitas kedaerahan seperti yang ingin ditampilkan dalam pameran kali ini sebenarnya bukan suatu identitas yang mengikat. Lebih tepatnya keragaman personal dengan latar berbeda itu disebut sebagai kolektif asemblasi. Kolektivitas yang semacam ini hadir sebagai problem bagi kesatuan, ia berarti keberjamakan elemen namun terkomposisi sebagai kesatuan yang tidak mengikat. Keterikatan dalam satu wadah pameran ini misalnya merupakan kesatuan yang temporal, hanya untuk mewujudkan satu kepentingan bersama, sedang pada saat yang lain masing-masing personalnya akan mencari jalur-jalur pelariannya sendiri. Kesatuan kedaerahan seperti ini bisa dibedakan dengan jenis pameran yang didasarkan pada kesamaan ideologis, di mana sifat keterikatannya akan lebih permanen jika dibandingkan dengan jenis kesatuan yang lain.

Eksplosi Keragaman dipilih sebagai subtema dalam pameran ini. Sebagian besar karya yang ditampilkan di pameran ini masih menekankan pada eksplorasi perbedaan. Sebagian besar karya-karya itu belum bisa dikategorikan dalam karya yang kritis. Dengan kata lain, pameran ini sebenarnya tidak bermaksud ingin mereferensikan seluruh karya pada tema pokok. Idealitas tema hanya akan digantungkan di atas sana namun dengan tetap berharap karya-karya yang dipamerkan akan menggapai harapan itu. Dengan tetap melihat kenyataan yang ada, pameran ini merupakan penyadaran kembali akan nilai-nilai seni yang kritis. Sebentuk harapan, utopi atau mimpi di siang bolong tatkala massa asyik-masyuk dalam hiruk-pikuk perayaan seni kontemporer.


No comments:

Post a Comment