Mohamad Arifin, 2012
1.
Selepas kebangkrutan yang melanda abad modern yang mengusung narasi besar,
kini sejarah seni telah memasuki babakan baru. Hari ini jagat seni sedang
asyik-masyuk dalam hiruk-pikuk perayaan seni
kontemporer. Kedatangan seni kontemporer dianggap sebagai kekuatan subversif
yang menolak segala bentuk diskursus dominan. Homogenisasi kekuasaan pun
terpecah menjadi kepingan yang ringan tanpa beban. Partikularitas yang
berkeping-keping itupun menebarkan debu-debu pluralitas yang bertebaran di seantero
atmosfer kebudayaan masa kini. Sekarang kita menyaksikan kematian narasi besar itu
terkubur di dalam timbunan partikel-partikel eksplosi keragaman di seluruh lini
kehidupan. Perbedaan telah menandai datangnya suatu zaman baru di mana epos
nihilisme menjadi spirit yang menghidupinya.
Seolah tanpa diwarnai interupsi sedikitpun, khalayak luas secara berjamaah mengangukkan
kepala tanda setuju bahwa era kontemporer dapat menjamin kebebasan sekaligus
dapat mewadahi keragaman bentuk-bentuk kebudayaan. Dengan lahap massa menelan
mentah-mentah arti dari spirit perbedaan tersebut. Mereka gerombolan domba itu belumlah
memamah banyak laku kontemplasi mati-matian soal dalamnya jurang kehidupan yang
absurd. Nyaris tanpa kedalaman dan kepekaan yang tajam, publik seni terjatuh
dalam ekstase kelupaan untuk menafsir kembali spirit perbedaan itu dengan sikap
yang kritis. Seni kontemporer pun ikut terhanyut dalam kemabukan massal.
2.
Seni kontemporer
membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya apa yang dianggap inferior oleh seni modern. Kitsch merupakan contoh yang paling palsu di dalam seni
hari ini. Pada era ini seni berhasrat memuja permukaan, di mana
ia
ditandai dengan penolakan akan kedalaman isi, konsep dan idea pokok, karena itu
jenis seni ini lebih menekankan pada eksplorasi bentuk. Lembar-lembar sejarah seni modern belumlah kusut dan tak terbaca,
tintanya masih legam mengental, mencolok mata kita, seolah mengajak kita untuk
membacanya kembali. Menjejaki kembali sejarah masa lalu merupakan ingatan yang
terjaga untuk mengatasi keadaan hari ini.
Seni garda-depan sebagai sebuah
gerakan pelopor dalam abad modern pada
masanya dulu menolak dengan tegas karya seni yang palsu, kitsch. Melalui budaya
mekanik, karya seni dapat dipalsukan dengan cara penggandaan reproduksi. Di kemudian hari datanglah kapitalisme yang mencuri idea-idea orisinal seni modern dan
mereproduksikannya menjadi produk-produk seni yang telah dimekanisasi ke dalam
budaya konsumer. Oleh karena itu produk seni yang dihasilkan oleh reproduksi
mekanik bersifat dangkal dan artifisial. Wujud karya seni telah direifikasikan sebagai objek yang terasing dari
dirinya yang otentik, dan dalam batas tertentu ia direduksikan menjadi objek
komoditas. Dalam batas teritorial ekonomistik seperti itu, dengan menggunakan
logika produksi karya seni memiliki status sebagai nilai tukar.
3.
Tak berhenti pada era paska-perang, komersialisasi seni pun terus
berkembang sampai hari ini. Gelembung determinasinya semakin membesar seperti
bola salju yang menggelinding dari ketinggian. Di puncak ketinggian itu ia
menjelma menjadi diskursus dominan. Kapitalisme
seni yang sebagai kekuatan homogen telah mewujudkan diri sebagai “otoritas
tunggal yang lain”. Diskursus seni
kontemporer kemudian memproduksi serangkaian teknik dan prosedur untuk
mengontrol realitas seni secara menyeluruh. Semua infrastruktur yang berada di
dalamnya dijadikan alat untuk mencapai tujuan-tujuan pragmatis. Distribusi
pengetahuan pun juga telah diatur secara rapi dan laten mengikuti mekanisme hukum-hukum pasar.
Agen-agen pengetahuan seperti media massa, praktek
kuratorial, kritik seni, lembaga riset dan
arsiparis secara terselubung telah dimanfaatkan sebagai alat
pembenaran suatu karya dengan menuruti hasrat pasar.
Tidak seperti kapitalisme purba yang terang-terangan merepresi kesadaran
manusia melalui pola kerja industrial, kapitalisme lanjut justru menampilkan
diri dengan mekanisme represi yang sangat lembut. Tanpa kita sadari, mekanisme
semacam ini telah melumpuhkan kerja-kerja seni yang eksistensial. Sampai pada
gilirannya, publik seni telah ditipu oleh muslihat kapitalisme dengan
serangkaian propaganda pengetahuan yang melegitimasikan “kebenaran karya seni” tertentu. “Kebenaran karya seni” pada akhirnya hanya dapat ditentukan oleh otoritas
kekuasaan yang bernama pasar. Karya seni
yang tadinya memiliki muatan ideal, kini telah disublimasikan ke dalam
nilai-nilai pragmatis. Dalam
kenyataannya, pasarlah yang menentukan kebernilaian suatu karya seni. Semua
karya seni yang terlepas dan tercerabut keluar dari lingkaran pasar tidak
dianggap sebagai karya seni yang bernilai.
Seni kontemporer telah menyatakan keimannya kepada pasar. Seni kontemporer dengan mudah
terjatuh dalam pelukan rezim pasar hanya karena ia sedang menderita amnesia
eksistensial. Kelupaan ini disebabkan oleh kemabukan massa yang
merayakan epos nihilisme tanpa dibarengi oleh semangat kritik. Perbedaan adalah
satu rangkaian tunggal dengan kritik, tanpa itu wajah seni rupa kontemporer
akan nampak sebagai kawanan yang seragam.
Seni
kontemporer yang awalnya dianggap sebagai pembebas dari konseptualisasi yang
serba kaku, pada saat yang sama sedang menanam jebakan. Tanpa kita sadari, seni
kontemporer yang mengusung semangat perbedaan itu telah menjelma menjadi sebuah
diskursus seni yang pada prinsipnya dibangun di atas asumsi-asumsi pragmatisme.
Seni kontemporer tidak mampu melepaskan diri dari jeratan kekuatan dominan yang bernama pasar. Pada satu sisi, seni kontemporer dengan mengusung perbedaan
sebagai narasi kecilnya telah mengatasi narasi besar yang sebelumnya menjadi
legitimasi seni modern. Tetapi di sisi lain, perbedaan justru menjadi problem
yang berbalik. Perbedaan
dapat dinyatakan dengan narasi minor seperti anti-subjek, anti-identitas dan
anti-representasi. Seluruh masalah yang
berkembang dalam seni kontemporer sesungguhnya bergerak dari tiga narasi minor
ini.
Globalisasi yang melanda dunia juga membawa seni kontemporer kepada
suatu kondisi yang homogen. Di belahan dunia manapun, semua seniman
memanifestasikan narasi minor tersebut ke dalam karya mereka. Pada satu
kondisi, seni kontemporer berhasil mengeksplorasi perbedaan pada keragaman
bentuk yang luar biasa jamaknya. Tetapi pada kenyataannya, keragaman itu
berangkat dari satu tema naratif yang sama. Dalam parodi misalnya, strategi ini
dilakukan untuk mempolitisasi identitas dalam karya seni masa lalu. Orisinalitas tidak lagi menjadi hal pokok dalam menimbang karya, justru
dengan politisasi identitas tersebut ia disebut sebagai karya yang subversif. Pola
kerja semacam ini banyak dilakukan semua seniman di manapun tempatnya. Inilah
yang menjadi masalah dalam seni kontemporer yang pada kenyataannya menemui
jalan buntu dalam mencari kemungkinan masalah yang baru.
Pada era kontemporer, mekanisme pola hubungan kerjanya tidak lagi diatur
menggunakan logika produksi—sebagaimana yang dikenal dalam era modern. Mekanisme
yang berlaku dalam era kontemporer menggunakan logika simulasi, di mana karya
seni berstatus sebagai nilai tanda. Namun
demikian, kita tidak melihat perbedaan yang signifikan dengan seni modern manakala
seni kontemporer telah menjelma menjadi diskursus dominan dan bergandeng tangan
dengan otoritas tunggal yang lain, yakni pasar. Sampai hari ini ekonomisme masih menjadi kekuatan dominan yang menghomogenisasi
seni dan mereduksikannya ke dalam industri kultural. Karya seni berstatus
sebagai nilai tanda, akan tetapi semiotisasi
yang dipahami di sini adalah sesuatu yang ekonomistik. Karya seni yang disimulasikan sedemikian rupa oleh nilai tanda pada akhirnya diarahkan
untuk tujuan pragmatis.
Pada era ini, kita tidak melihat kekuatan lain yang mampu menandingi
gurita kekuatan dominan. Kita harus menyadari akan kondisi ini. Seni kontemporer
yang beranjak menjadi mapan, dengan kata lain ia telah menjadi klasik. Kondisi
ini merupakan kondisi yang berbahaya bagi kelangsungan seni di masa yang akan
datang. Sebuah kondisi yang menutup rapat suatu kemungkinan “yang baru”. Kita
tidak boleh terjebak pada satu kondisi statis. Untuk itu semaikan kembali benih-benih yang
baru. Dunia ini tak berhenti di satu momen. Ada banyak lagi peristiwa yang
menunggu kita di depan.
Jalannya makin mendaki, terjal dan curam: itupun juga menantang
kematian-kematian yang baru.
Era kontemporer bukanlah kekinian yang jumud, berhenti di zona aman, melainkan
suatu kondisi sementara: semacam kutu sinkroni atau seperti iklan TV yang
numpang lewat. Kontemporer bukanlah nama di mana sesuatu harus berada: ia dapat
dinyatakan sebagai kondisi transisi; pemberhentian sementara; gerakan menuju ke
suatu entah. “Kebenaran karya seni” bukan hanya dapat ditentukan oleh kekuatan
dominan karena kebenarannya telah
terpecah sampai ke unit terkecil. Begitu pun keberimanan
akan pasar harus diimbangi dengan bentuk keimanan yang lain, ia bercecabang dalam rekahan
fraktal, mencari jalur pelariannya sendiri, tanpa henti. Kemungkinan-kemungkinan yang lain juga harus terus dicari sampai pada akhirnya orang akan
jenuh menamai segala sesuatu “yang baru”.
5.
Jatim Art Now adalah pameran seni visual yang mempresentasikan karya-karya para seniman
yang berasal dari segala penjuru daerah di Jawa Timur. Kesamaan asal wilayah
inilah yang mendasari pameran ini. Sebagian dari mereka memang dilahirkan di
Jawa Timur, sepanjang karir atau untuk waktu tertentu pernah tinggal dan
berkesenian di wilayah ini. Sedang sebagian yang lain lahir di Jawa Timur dan
eksistensi keseniannya mereka kembangkan di wilayah lain. Identitas kedaerahan
seperti yang ingin ditampilkan dalam pameran kali ini sebenarnya bukan suatu
identitas yang mengikat. Lebih tepatnya keragaman personal dengan latar berbeda
itu disebut sebagai kolektif asemblasi.
Kolektivitas yang semacam ini hadir sebagai problem bagi kesatuan, ia berarti
keberjamakan elemen namun terkomposisi sebagai kesatuan yang tidak mengikat. Keterikatan
dalam satu wadah pameran ini misalnya merupakan kesatuan yang temporal, hanya
untuk mewujudkan satu kepentingan bersama, sedang pada saat yang lain
masing-masing personalnya akan mencari jalur-jalur pelariannya sendiri. Kesatuan
kedaerahan seperti ini bisa dibedakan dengan jenis pameran yang didasarkan pada
kesamaan ideologis, di mana sifat keterikatannya akan lebih permanen jika
dibandingkan dengan jenis kesatuan yang lain.
Eksplosi Keragaman dipilih sebagai subtema dalam pameran ini. Sebagian besar karya yang
ditampilkan di pameran ini masih menekankan pada eksplorasi perbedaan. Sebagian
besar karya-karya itu belum bisa dikategorikan dalam karya yang kritis. Dengan
kata lain, pameran ini sebenarnya tidak bermaksud ingin mereferensikan seluruh
karya pada tema pokok. Idealitas tema hanya akan digantungkan di atas sana namun
dengan tetap berharap karya-karya yang dipamerkan akan menggapai harapan itu. Dengan
tetap melihat kenyataan yang ada, pameran ini merupakan penyadaran kembali akan
nilai-nilai seni yang kritis. Sebentuk harapan, utopi atau mimpi di siang
bolong tatkala massa asyik-masyuk
dalam hiruk-pikuk perayaan seni
kontemporer.
No comments:
Post a Comment