Monday, July 30, 2012

Jatim Art Now : Wadah Inspirasi Perupa Jawa Timur


Wednesday, 18 July 2012 12:05 administrator


Jakarta, INSTITUT-Sebanyak 137 karya berupa lukisan, fotografi, patung, seni instalasi, dan griya kontemporer dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia Jakarta. Pameran yang bertema Jatim Art Now #1 ini diselenggarakan oleh perupa-perupa asal Jawa Timur.

Pameran yang diselenggarakan oleh Rumah Data dan Informasi Seni Visual Jawa Timur ini berlangsung sejak 22 Juni.  Pameran ini juga merupakan agenda roadshow para seniman Jawa Timur, setelah di Jakarta mereka akan melanjutkan ke Bandung,  Yogja, Semarang, Bali, dan berakhir di Surabaya Agustus 2013.
Pameran dengan subtema Eksplosi Keragaman ini merupakan pameran pertama yang dilakukan oleh seniman-seniman asal Jawa Timur. Acara ini juga bekerja sama dengan Galeri Nasional Indonesia dan di backup oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Ketua Pameran Ivan Hariyanto menuturkan, para perupa pada pameran Jatim Art Now berasal dari 19 kota dan kabupaten Jawa Timur. Dengan seleksi yang ketat Jatim Art now berusaha menampilkan karya-karya terbaik seniman Jawa Timur. Ia juga mengatakan, digelarnya Jatim Art Now juga untuk mengenalkan karya seniman Jawa Timur.
Menurutnya, perkembangan seni rupa Jawa Timur saat ini sangat pesat. Di mana di setiap kota dan kabupaten terdapat talenta-talenta seni. “Jatim Art Now adalah wadah bagi perupa-perupa Jawa Timur,” ujarnya kamis (5/6). Ia menambahkan, Jawa Timur juga salah satu titik terpenting seni rupa di Tanah Air. “Selama ini kan yang terdengar hanya Bali, Yogya, Bandung, dan Jakarta,” ucapnya
Tutus Prayogo perupa asal Surabaya mengatakan, pameran ini sangat  menarik. Tapi menurutnya, terlalu banyak karya yang ditampilkan sehingga membuat para pengunjung bingung. “Banyak nggak apa-apa tapi jangan terlalu banyak,” ungkapnya, Kamis (5/6).
Seperti yang dikutip  NRMnews- tampak kebebasan berekspresi dari masing-masing perupa seni tertuang di dalam karya-karya yang dipamerkan. Tiap-tiap seniman memiliki cirinya masing-masing. Hal ini yang membuat daya tarik lebih dari Jatim Art Now #1 ini.
Seperti karya Ars Dewo Depe yang menampilkan hasil karya seni dari bahan rambut dengan judul Seni Instalasi dengan Media Rambut.  Ia memandang rambut adalah salah satu bagian dari tubuh manusia yang tidak dapat hancur selain Tulang.
Dan sebagai pembuat dan designer wig atau rambut palsu, maka Ars Dewo terinspirasi untuk membuat karya seni dari rambut. Dengan tetap melihat kenyataan yang ada, pameran ini merupakan penyadaran kembali akan nilai-nilai seni yang kritis.
Karya Seni perlu dimaknai, ditafsir, dibincangkan melalui rupa-rupa pendekatan, agar karya seni itu tidak hanya berhenti sebagai artefak yang mati, diam dan tak tersentuh medan perdebatan makna. Perupa hendaknya menyadari bahwa dunia seni rupa sekarang menghendaki lebih dari itu. Termasuk kesadarannya dalam tata gaul global, antara lain juga termasuk dengan art marketnya, demikian ujar Djuli Djatiprambudi. (Ahmad Syarif Muarief)

sumber: http://lpminstitut.com/estetis/seni-rupa/359-jatim-art-now-wadah-inspirasi-perupa-jawa-timur


Menyaksikan perupa Jawa Timur guyub dalam Jatim Art Now



Rabu, 4 Juli 2012 19:34 WIB

Jakarta (ANTARA News) - Sebanyak 124 perupa asal Jawa Timur menggelar pameran seni rupa bersama untuk pertama kalinya bertajuk Jatim Art Now #1 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Inilah arena bagi perupa-perupa itu untuk tampil bersama secara guyub.

Pameran sejak 22 Juni itu akan berakhir Kamis (5/7) besok dan akan melanjutkan perjalanannya ke Bandung, Jogjakarta, Semarang, Bali, lalu pulang kampung ke Surabaya hingga 2013 nanti.

"Belum pernah ada dalam sejarah seniman Jawa Timur, keluar dan keliling dalam pameran bersama seperti ini," kata salah satu seniman yang terlibat, Ivan Hariyanto, saat ditemui di Galeri Nasional Indonesia, Rabu.

Menurut dia, selama ini perupa Jawa Timur kerap menggelar pameran sendiri-sendiri. Gaung perupa Jawa Timur juga masih kurang kencang dibandingkan perupa asal Yogyakarta, Bandung, Bali, ataupun Jakarta.

Oleh karena itu, Ivan menuturkan, dari pameran ini masyarakat bisa lebih mengapresiasi kepada perupa Jawa Timur.

"Kami ingin lebih memunculkan dan memperkenalkan karya seniman Jawa Timur sebagai salah satu titik terpenting seni rupa di Tanah Air karena selama ini yang menonjol dari Bali, Yogya, Bandung, Jakarta," kata Ivan.

Galeri Nasional Indonesia menjadi awal, karena mereka akan menyapa galeri di beberapa daerah lain.

Pameran yang menampilkan sebanyak 135 karya itu tidak memiliki tema tertentu tetapi menuju suatu keberagaman potensi. Rencananya, tambah Ivan, "Jatim Art Now" akan menjadi sebuah lembaga untuk menggelar workshop dan residensi bagi perupa.

"Mudah-mudahan dari pameran ini, secara emosional dapat membuat motivasi bagi perupa-perupa lain di Jawa Timur," katanya.

(M047)
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © 2012

Saturday, July 28, 2012

Menyoal Seni Kontemporer




Mohamad Arifin, 2012



1.
Selepas kebangkrutan yang melanda abad modern yang mengusung narasi besar, kini sejarah seni telah memasuki babakan baru. Hari ini jagat seni sedang asyik-masyuk dalam hiruk-pikuk perayaan seni kontemporer. Kedatangan seni kontemporer dianggap sebagai kekuatan subversif yang menolak segala bentuk diskursus dominan. Homogenisasi kekuasaan pun terpecah menjadi kepingan yang ringan tanpa beban. Partikularitas yang berkeping-keping itupun menebarkan debu-debu pluralitas yang bertebaran di seantero atmosfer kebudayaan masa kini. Sekarang kita menyaksikan kematian narasi besar itu terkubur di dalam timbunan partikel-partikel eksplosi keragaman di seluruh lini kehidupan. Perbedaan telah menandai datangnya suatu zaman baru di mana epos nihilisme menjadi spirit yang menghidupinya.

Seolah tanpa diwarnai interupsi sedikitpun, khalayak luas secara berjamaah mengangukkan kepala tanda setuju bahwa era kontemporer dapat menjamin kebebasan sekaligus dapat mewadahi keragaman bentuk-bentuk kebudayaan. Dengan lahap massa menelan mentah-mentah arti dari spirit perbedaan tersebut. Mereka gerombolan domba itu belumlah memamah banyak laku kontemplasi mati-matian soal dalamnya jurang kehidupan yang absurd. Nyaris tanpa kedalaman dan kepekaan yang tajam, publik seni terjatuh dalam ekstase kelupaan untuk menafsir kembali spirit perbedaan itu dengan sikap yang kritis. Seni kontemporer pun ikut terhanyut dalam kemabukan massal.

2.
Seni kontemporer membuka pintu lebar-lebar bagi masuknya apa yang dianggap inferior oleh seni modern. Kitsch merupakan contoh yang paling palsu di dalam seni hari ini. Pada era ini seni berhasrat memuja permukaan, di mana ia ditandai dengan penolakan akan kedalaman isi, konsep dan idea pokok, karena itu jenis seni ini lebih menekankan pada eksplorasi bentuk. Lembar-lembar sejarah seni modern belumlah kusut dan tak terbaca, tintanya masih legam mengental, mencolok mata kita, seolah mengajak kita untuk membacanya kembali. Menjejaki kembali sejarah masa lalu merupakan ingatan yang terjaga untuk mengatasi keadaan hari ini.

Seni garda-depan sebagai sebuah gerakan pelopor dalam abad modern pada masanya dulu menolak dengan tegas karya seni yang palsu, kitsch. Melalui budaya mekanik, karya seni dapat dipalsukan dengan cara penggandaan reproduksi. Di kemudian hari datanglah kapitalisme yang mencuri idea-idea orisinal seni modern dan mereproduksikannya menjadi produk-produk seni yang telah dimekanisasi ke dalam budaya konsumer. Oleh karena itu produk seni yang dihasilkan oleh reproduksi mekanik bersifat dangkal dan artifisial. Wujud karya seni telah direifikasikan sebagai objek yang terasing dari dirinya yang otentik, dan dalam batas tertentu ia direduksikan menjadi objek komoditas. Dalam batas teritorial ekonomistik seperti itu, dengan menggunakan logika produksi karya seni memiliki status sebagai nilai tukar.

3.
Tak berhenti pada era paska-perang, komersialisasi seni pun terus berkembang sampai hari ini. Gelembung determinasinya semakin membesar seperti bola salju yang menggelinding dari ketinggian. Di puncak ketinggian itu ia menjelma menjadi diskursus dominan. Kapitalisme seni yang sebagai kekuatan homogen telah mewujudkan diri sebagai “otoritas tunggal yang lain”. Diskursus seni kontemporer kemudian memproduksi serangkaian teknik dan prosedur untuk mengontrol realitas seni secara menyeluruh. Semua infrastruktur yang berada di dalamnya dijadikan alat untuk mencapai tujuan-tujuan pragmatis. Distribusi pengetahuan pun juga telah diatur secara rapi dan laten mengikuti mekanisme hukum-hukum pasar. Agen-agen pengetahuan seperti media massa, praktek kuratorial, kritik seni, lembaga riset dan arsiparis secara terselubung telah dimanfaatkan sebagai alat pembenaran suatu karya dengan menuruti hasrat pasar.

Tidak seperti kapitalisme purba yang terang-terangan merepresi kesadaran manusia melalui pola kerja industrial, kapitalisme lanjut justru menampilkan diri dengan mekanisme represi yang sangat lembut. Tanpa kita sadari, mekanisme semacam ini telah melumpuhkan kerja-kerja seni yang eksistensial. Sampai pada gilirannya, publik seni telah ditipu oleh muslihat kapitalisme dengan serangkaian propaganda pengetahuan yang melegitimasikan “kebenaran karya seni” tertentu. “Kebenaran karya seni” pada akhirnya hanya dapat ditentukan oleh otoritas kekuasaan yang bernama pasar. Karya seni yang tadinya memiliki muatan ideal, kini telah disublimasikan ke dalam nilai-nilai pragmatis. Dalam kenyataannya, pasarlah yang menentukan kebernilaian suatu karya seni. Semua karya seni yang terlepas dan tercerabut keluar dari lingkaran pasar tidak dianggap sebagai karya seni yang bernilai.

Seni kontemporer telah menyatakan keimannya kepada pasar.  Seni kontemporer dengan mudah terjatuh dalam pelukan rezim pasar hanya karena ia sedang menderita amnesia eksistensial. Kelupaan ini disebabkan oleh kemabukan massa yang merayakan epos nihilisme tanpa dibarengi oleh semangat kritik. Perbedaan adalah satu rangkaian tunggal dengan kritik, tanpa itu wajah seni rupa kontemporer akan nampak sebagai kawanan yang seragam.  Seni kontemporer yang awalnya dianggap sebagai pembebas dari konseptualisasi yang serba kaku, pada saat yang sama sedang menanam jebakan. Tanpa kita sadari, seni kontemporer yang mengusung semangat perbedaan itu telah menjelma menjadi sebuah diskursus seni yang pada prinsipnya dibangun di atas asumsi-asumsi pragmatisme. Seni kontemporer tidak mampu melepaskan diri dari jeratan kekuatan dominan yang bernama pasar. Pada satu sisi, seni kontemporer dengan mengusung perbedaan sebagai narasi kecilnya telah mengatasi narasi besar yang sebelumnya menjadi legitimasi seni modern. Tetapi di sisi lain, perbedaan justru menjadi problem yang berbalik. Perbedaan dapat dinyatakan dengan narasi minor seperti anti-subjek, anti-identitas dan anti-representasi. Seluruh masalah yang berkembang dalam seni kontemporer sesungguhnya bergerak dari tiga narasi minor ini.

Globalisasi yang melanda dunia juga membawa seni kontemporer kepada suatu kondisi yang homogen. Di belahan dunia manapun, semua seniman memanifestasikan narasi minor tersebut ke dalam karya mereka. Pada satu kondisi, seni kontemporer berhasil mengeksplorasi perbedaan pada keragaman bentuk yang luar biasa jamaknya. Tetapi pada kenyataannya, keragaman itu berangkat dari satu tema naratif yang sama. Dalam parodi misalnya, strategi ini dilakukan untuk mempolitisasi identitas dalam karya seni masa lalu. Orisinalitas tidak lagi menjadi hal pokok dalam menimbang karya, justru dengan politisasi identitas tersebut ia disebut sebagai karya yang subversif. Pola kerja semacam ini banyak dilakukan semua seniman di manapun tempatnya. Inilah yang menjadi masalah dalam seni kontemporer yang pada kenyataannya menemui jalan buntu dalam mencari kemungkinan masalah yang baru.

Pada era kontemporer, mekanisme pola hubungan kerjanya tidak lagi diatur menggunakan logika produksi—sebagaimana yang dikenal dalam era modern. Mekanisme yang berlaku dalam era kontemporer menggunakan logika simulasi, di mana karya seni berstatus sebagai nilai tanda. Namun demikian, kita tidak melihat perbedaan yang signifikan dengan seni modern manakala seni kontemporer telah menjelma menjadi diskursus dominan dan bergandeng tangan dengan otoritas tunggal yang lain, yakni pasar. Sampai hari ini ekonomisme masih menjadi kekuatan dominan yang menghomogenisasi seni dan mereduksikannya ke dalam industri kultural. Karya seni berstatus sebagai nilai tanda, akan tetapi semiotisasi yang dipahami di sini adalah sesuatu yang ekonomistik. Karya seni yang disimulasikan sedemikian rupa oleh nilai tanda pada akhirnya diarahkan untuk tujuan pragmatis.

Pada era ini, kita tidak melihat kekuatan lain yang mampu menandingi gurita kekuatan dominan. Kita harus menyadari akan kondisi ini. Seni kontemporer yang beranjak menjadi mapan, dengan kata lain ia telah menjadi klasik. Kondisi ini merupakan kondisi yang berbahaya bagi kelangsungan seni di masa yang akan datang. Sebuah kondisi yang menutup rapat suatu kemungkinan “yang baru”. Kita tidak boleh terjebak pada satu kondisi statis. Untuk itu semaikan kembali benih-benih yang baru. Dunia ini tak berhenti di satu momen. Ada banyak lagi peristiwa yang menunggu kita di depan. Jalannya makin mendaki, terjal dan curam: itupun juga menantang kematian-kematian yang baru.

Era kontemporer bukanlah kekinian yang jumud, berhenti di zona aman, melainkan suatu kondisi sementara: semacam kutu sinkroni atau seperti iklan TV yang numpang lewat. Kontemporer bukanlah nama di mana sesuatu harus berada: ia dapat dinyatakan sebagai kondisi transisi; pemberhentian sementara; gerakan menuju ke suatu entah. “Kebenaran karya seni” bukan hanya dapat ditentukan oleh kekuatan dominan karena kebenarannya telah terpecah sampai ke unit terkecil. Begitu pun keberimanan akan pasar harus diimbangi dengan bentuk keimanan yang lain, ia bercecabang dalam rekahan fraktal, mencari jalur pelariannya sendiri, tanpa henti. Kemungkinan-kemungkinan yang lain juga harus terus dicari sampai pada akhirnya orang akan jenuh menamai segala sesuatu “yang baru”.

5.
Jatim Art Now adalah pameran seni visual yang mempresentasikan karya-karya para seniman yang berasal dari segala penjuru daerah di Jawa Timur. Kesamaan asal wilayah inilah yang mendasari pameran ini. Sebagian dari mereka memang dilahirkan di Jawa Timur, sepanjang karir atau untuk waktu tertentu pernah tinggal dan berkesenian di wilayah ini. Sedang sebagian yang lain lahir di Jawa Timur dan eksistensi keseniannya mereka kembangkan di wilayah lain. Identitas kedaerahan seperti yang ingin ditampilkan dalam pameran kali ini sebenarnya bukan suatu identitas yang mengikat. Lebih tepatnya keragaman personal dengan latar berbeda itu disebut sebagai kolektif asemblasi. Kolektivitas yang semacam ini hadir sebagai problem bagi kesatuan, ia berarti keberjamakan elemen namun terkomposisi sebagai kesatuan yang tidak mengikat. Keterikatan dalam satu wadah pameran ini misalnya merupakan kesatuan yang temporal, hanya untuk mewujudkan satu kepentingan bersama, sedang pada saat yang lain masing-masing personalnya akan mencari jalur-jalur pelariannya sendiri. Kesatuan kedaerahan seperti ini bisa dibedakan dengan jenis pameran yang didasarkan pada kesamaan ideologis, di mana sifat keterikatannya akan lebih permanen jika dibandingkan dengan jenis kesatuan yang lain.

Eksplosi Keragaman dipilih sebagai subtema dalam pameran ini. Sebagian besar karya yang ditampilkan di pameran ini masih menekankan pada eksplorasi perbedaan. Sebagian besar karya-karya itu belum bisa dikategorikan dalam karya yang kritis. Dengan kata lain, pameran ini sebenarnya tidak bermaksud ingin mereferensikan seluruh karya pada tema pokok. Idealitas tema hanya akan digantungkan di atas sana namun dengan tetap berharap karya-karya yang dipamerkan akan menggapai harapan itu. Dengan tetap melihat kenyataan yang ada, pameran ini merupakan penyadaran kembali akan nilai-nilai seni yang kritis. Sebentuk harapan, utopi atau mimpi di siang bolong tatkala massa asyik-masyuk dalam hiruk-pikuk perayaan seni kontemporer.


Seni Rupa Jawa Timur Kini


Tulisan ini bukan tulisan kuratorial, tetapi sekadar catatan saya ikut mengantarkan pameran Jatim Art Now 2012 di Galeri Nasional Indonesia. Kata “Now” dalam tajuk pameran ini berarti kini, yaitu menunjuk pada waktu saat ini, atau menunjuk pada gejala praktik seni rupa di Jatim, paling tidak yang terjadi lima tahun terakhir. Bisa jadi, sebagian di antara kita menandai, pameran ini sebagai genre seni rupa kontemporer, karena secaha harfiah kata kontemporer berarti juga masa kini.

Seperti yang sering saya katakan dalam berbagai kesempatan diskusi, bahwa seni rupa di Jatim seperti sebuah anomali dalam konteks seni rupa Indonesia. Pertumbuhan seni rupa di Jatim menyebar ke berbagai penjuru daerah kabupaten atau kota. Ada sejumlah kantung-kantung pertumbuhan yang dapat diamati, dan kita sering mendengar berita dinamikanya. Kantung-kantung itu, yaitu; Banyuwangi dan sekitarnya, Malang Raya, Tulungangung dan sekitarnya, Madiun dan sekitarnya, Gresik, Tuban dan sekitarnya, Sidoarjo dan sekitarnya, Mojokerto, serta Madura. Namun, setiap wilayah itu mengalami dinamika yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan infrastruktur dan patron yang ada di setiap wilayah.
Sementara itu, dalam perkembangan mutakhir tata gaul seni rupa semakin susah hanya dibaca sebatas dinamika di tingkat lokal, tetapi perkembangannya menuju ke arah dinamika global. Sebuah wilayah semakin sulit dibaca sebagai sebuah entitas seni rupa, yang khas dan unik (local genius). Sebuah wilayah agaknya hanya cukup dibaca sebagai label identitas, yaitu menyangkut seputar asal-usul atau tempat tinggal si seniman. 

Kesadaran ke dalam perspektif global didasarkan pada isu mutakhir, yaitu ‘kapitalisme lanjut’. Isu ini akan mengarahkan dunia dalam bentuk ‘integrasi global’ dalam setiap satuan kebudayaan; ekonomi, politik, ilmu, politik, hingga kesenian (seni rupa). Dunia menurut gambaran kapitalisme lanjut tidak lagi dibatasi oleh batas-batas geografis atau batas-batas kultural, tetapi dunia akan disatukan melalui satu ‘ideologi’, yaitu ‘peradaban pasar’. Adanya satu kepentingan tunggal, yaitu membangun ‘imperium ekonomi’ yang hanya dikendalikan oleh ‘raksasa-raksasa’ dunia.

Persoalannya: Bagaimana membangun dinamika kesenirupaan dalam satuan lokal dapat merespons situasi global semacam itu? Apakah seniman di satuan-satuan lokal sudah memiliki kesiapan mental, intelektual, modal (kapital), dan jejaringnya dalam merespons tata gaul kebudayaan macam itu?
Terkait dengan isu global tersebut, dunia seni rupa, kini, sebenarnya tengah menghadapi krisis. Krisis tersebut dapat diamati lewat tiga ranah, yaitu: (1) dinamika praktek dengan segala tantangan teknisnya, (2) dinamika wacana dengan segala olah pikir, teori, dan segala gesekan-gesekan intelektualnya, (3) dinamika pasar dengan segala taktik dan strateginya.

Dalam konteks krisis tersebut, ada gejala umum bahwa praktek seni rupa di kantung-kantung pertumbuhan seni rupa di Jatim sebagaimana juga terjadi di luar Jatim, terkena imbas dan bahkan menjadi bagian dari krisis itu. Praktek seni rupa lebih terasa diwarnai oleh motif-motif pragmatis, cenderung kuat membangun ‘emporium’ (infrastruktur pasar). Tetapi, gejala ini tidak menjadi soal sebenarnya, karena semua peradaban di jagat ini bermula dibangun dari bentuk ‘emporium’, barulah menjadi ‘imperium’. 

Dalam satu dasawarsa terakhir kita lihat gejala bahwa ‘emporium’ seni rupa semakin dibangun besar-besaran, walaupun saat ini agak terlihat lesu. Lihatlah berbagai rumah lelang berdiri silih-berganti, walaupun kemudian ada yang mati suri. Rata-rata setiap tahun lebih dari 2000 lot diperebutkan di rumah lelang. Belum galeri-galeri, yang juga menciptakan jaringan pasarnya sendiri. Dan juga pasar ‘kasak-kusuk’ yang diciptakan oleh si seniman sendiri.

‘Emporium’ pada kenyataannya akan bubar tak membekaskan apa-apa, jika ia tidak menjadi ‘imperium’. Ini adalah semacam tatanan formal, yang akan mengatur semua lini kekuatan. Tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada mekanisme yang jelas. Ada etika dan hukum yang dipatuhi bersama. Dan ada ideologi yang memayungi gerakan-gerakan di dalamnya. Sudah saatnya, kita mulai memikirkan proses perubahan dari ‘emporium’ ke bentuk ‘imperium’ dalam konteks seni rupa, tidak hanya di Jawa Timur tentunya.

Dunia pasar (emporium) adalah dunia yang liberal. Pasar memiliki tujuan, mekanisme, sistem, jaringan, kepentingan, yang hampir-hampir semuanya digerakkan oleh perhitungan kapital. Pasar dengan seperangkat logikanya sering berseberangan dengan kualitas praktek, dan wacana yang terjadi. Maka, sesungguhnya dunia pasar, kalau kita tidak waspada, terlalu banyak jaring-jaring yang siap menjerat kita. Tapi, hal ini bukan berarti pasar tidak perlu. Yang diperlukan adalah ‘pasar yang sehat’, bermartabat, dan bermakna bagi dunia seni itu sendiri. Pasar yang memperebutkan nilai, kualitas, dan prestasi.

Akibat dari itu, seniman kemudian terlihat terlampau pragmatis, akibatnya muncul sikap agak ‘konyol’, yaitu mengidolakan atau ‘memberhalakan’ hal-hal sbb: (1) ‘idola/berhala’ tribus – menganggap kelompok, angkatan, aliran, atau identitasnya, sebagai sesuatu yang paling hebat; (2) ‘idola/berhala’ specus – menganggap sejarah atau biografinya, sebagai satu-satunya sumber kebenaran; (3) ‘idola/berhala’ fori – menganggap pasar atau kecenderungan umum, sebagai sesuatu yang harus diikuti; (4) ‘idola/berhala’ teatri – menganggap kata-kata tokoh; kurator, kolektor, pemilik galeri, kritikus, sebagai satu-satunya ‘standar’.
Seni rupa bukan hanya persoalan olah bentuk. Perupa bukan hanya bekerja dalam batas-batas artistik-estetik. Karya seni perlu dimaknai, ditafsir, dibincangkan, melalui rupa-rupa pendekatan, agar karya seni itu tidak hanya berhenti sebagai ‘artefak’ yang mati, diam, dan tak tersentuh medan perdebatan makna. Perupa hendaknya menyadari bahwa dunia seni rupa sekarang menghendaki lebih dari itu, termasuk kesadarannya dalam tata-gaul global, antara lain juga termasuk dengan art market-nya.

Tugas seniman sebenarnya tak melulu berkarya (olah bentuk), tetapi dia dalam dataran lebih jauh ‘harus’ terbuka dalam arus penafsiran (hermeneutis) dan sekaligus penaksiran (komodifikasi seni). Seniman mau tidak mau menceburkan dirinya dalam medan makna (wacana), dan medan pasar. Hal ini yang saya kira masih sangat jarang dilakukan. Seniman seolah ‘tidak siap’ memasuki medan makna dan medan pasar sekaligus – yang sebenarnya penting bagi pembentukan ‘posisioning’-nya dalam konteks pertumbuhan seni rupa dalam skala luas. Dalam menyikapi berbagai ragam persoalan tersebut, akhirnya persoalannya dipulangkan kepada seniman sendiri: Kemana seni rupa hendak dibawa, dibangun, dihadirkan, diwacanakan, diposisikan dalam tata-gaul peradaban global? Ini PR besar yang harus dipikirkan bersama.
Pameran Jatim Art Now 2012, saya kira harus dipahami secara luas, dengan melibatkan konteks di atas. 

Bukan hanya dalam konteks Jawa Timur, tetapi dalam konteks yang lebih luas. Ini logis, karena seni rupa pada masa kini, baik langsung maupun tidak langsung terimbas oleh isu global. Kenyataan ini amat dimungkinkan, mengingat teknologi informasi pada kenyataannya telah masuk di berbagai sudut pelosok wilayah Jatim. Seniman-seniman yang tinggal dan berkarya di berbagai daerah itu, tak merasa sebagai seniman lokal yang buta perkembangan, tetapi mereka diam-diam mengikuti perkembangan di luar, walaupun dengan kepala penuh tanda tanya.

Surabaya, Juni 2012

Djuli Djatiprambudi